Magicbooth

Revenue Sharing Photobooth: Apa yang Harus Dicek Sebelum Terima Proposal Vendor

Setup photobooth event dengan booth, lighting, dan area antrean sebagai contoh evaluasi vendor

Proposal revenue sharing photobooth biasanya terdengar simpel: vendor pasang booth, venue menyediakan space, lalu revenue dibagi. Buat cafe, mall, atau venue yang punya area kosong, ini bisa terlihat menarik karena tidak perlu membangun produk dari nol.

Tapi proposal yang terlihat rapi belum tentu menjawab bagian paling penting: angka itu dihitung dari apa?

Sebelum menerima penawaran, pisahkan dulu tiga hal: seberapa besar peluang orang benar-benar foto, bagaimana uangnya dibagi, dan siapa yang menanggung masalah operasional kalau booth sedang tidak jalan. Kalau tiga hal ini belum jelas, revenue sharing bisa terasa bagus di awal tapi membingungkan saat sudah berjalan.

Jangan langsung percaya angka bulanan

Kalau proposal menulis potensi revenue Rp10 juta, Rp20 juta, atau lebih per bulan, jangan berhenti di angka itu.

Tanyakan:

  • Itu gross revenue atau bagian venue?
  • Harga sesi yang dipakai berapa?
  • Berapa order per hari yang diasumsikan?
  • Berapa hari aktif per bulan?
  • Apakah angka itu memakai data venue serupa atau hanya target?
  • Apakah sudah memperhitungkan downtime?
  • Apakah ada promo launch yang hanya terjadi di bulan pertama?

Angka proposal sebaiknya bisa dibongkar sampai ke rumus paling dasar:

order per hari x harga sesi x hari operasional x share venue

Kalau vendor tidak bisa menjelaskan asumsi ini, pemilik venue akan sulit tahu apakah proposalnya masuk akal.

Kamu bisa masukkan angka proposal ke Photobooth Revenue Simulator untuk membandingkan dengan traffic dan kondisi venue kamu.

Pastikan bagi hasil photobooth dihitung dari gross atau net

Ini sering kelihatan kecil, padahal efeknya besar.

Revenue sharing dari gross berarti pembagian dihitung dari omzet sebelum potongan tertentu. Revenue sharing dari net berarti pembagian dilakukan setelah potongan tertentu. Potongan itu bisa berupa payment fee, biaya cetak, operator, promo, atau biaya lain tergantung kesepakatan.

Tidak ada satu skema yang otomatis paling benar. Yang penting adalah jelas sejak awal.

Minta proposal menulis:

  • share venue berapa persen;
  • share dihitung dari gross atau net;
  • biaya apa saja yang dipotong sebelum pembagian;
  • kapan settlement dilakukan;
  • report transaksi dikirim dalam format apa;
  • siapa PIC jika ada selisih report.

Kalau venue hanya melihat persentase, misalnya 20% atau 30%, angka itu belum cukup. Persentase harus dibaca bersama dasar perhitungannya.

Cek siapa yang menanggung operasional

Di lapangan, photobooth itu bukan cuma mesin yang ditaruh lalu ditinggal.

Ada printer, kamera, software, lighting, payment flow, kertas, tinta, koneksi internet, frame visual, dan maintenance. Kalau salah satu bermasalah, revenue bisa turun karena booth tidak bisa dipakai.

Sebelum setuju, tanya hal-hal ini:

  • siapa yang datang kalau booth error;
  • berapa target response time;
  • siapa yang isi ulang kertas dan consumable;
  • apakah ada operator atau self-service;
  • siapa yang membersihkan area booth;
  • siapa yang menjawab komplain customer;
  • apakah ada report uptime.

Venue yang ramai bisa kehilangan potensi revenue kalau booth sering mati. Venue yang traffic-nya sedang justru bisa cukup sehat kalau operasionalnya stabil dan placement-nya bagus.

Placement harus masuk dalam proposal

Proposal yang hanya membahas angka revenue belum lengkap kalau belum membahas posisi.

Untuk photobooth, posisi bukan detail kecil. Booth perlu terlihat, mudah dicoba, dan tidak mengganggu flow venue.

Posisi yang biasanya lebih kuat:

  • dekat entrance;
  • dekat waiting area;
  • terlihat dari kasir;
  • dekat area dengan dwell time tinggi;
  • punya ruang antrean kecil;
  • punya signage yang bisa dilihat sebelum orang melewati titik itu.

Posisi yang perlu hati-hati:

  • pojok belakang;
  • area sempit;
  • dekat toilet;
  • terlalu dekat jalur staff;
  • jauh dari listrik aman;
  • area yang terlalu gelap.

Kalau vendor memberi angka revenue tanpa melihat posisi, angkanya masih terlalu kasar. Minta mereka menilai foto space atau datang survey.

Bulan pertama launch bisa lebih tinggi

Bulan pertama sering punya efek penasaran. Apalagi kalau venue ikut posting, ada promo, atau booth punya tema yang terlihat baru untuk audience sekitar.

Masalahnya, angka bulan pertama tidak selalu menjadi angka stabil bulan berikutnya.

Jadi saat membaca proposal, pisahkan:

  • skenario launch;
  • skenario normal setelah novelty turun;
  • skenario high jika venue aktif membuat campaign;
  • skenario rendah jika placement atau awareness kurang.

Ini bukan untuk membuat proposal terasa pesimis. Justru supaya kedua pihak tidak salah ekspektasi.

Report transaksi wajib jelas

Untuk kerja sama bagi hasil, report transaksi adalah sumber kepercayaan.

Minimal, venue perlu tahu:

  • jumlah order harian;
  • gross revenue harian;
  • harga rata-rata per order;
  • refund atau order gagal jika ada;
  • payment method;
  • settlement ke venue;
  • tanggal settlement;
  • catatan downtime.

Kalau vendor punya dashboard atau report periodik, itu lebih mudah. Kalau belum ada, minta format report yang sederhana tapi konsisten.

Tanpa report, venue hanya menerima angka akhir. Itu rawan salah paham.

Kapan proposal layak dipertimbangkan?

Proposal revenue sharing photobooth lebih layak dipertimbangkan kalau:

  • vendor bisa menjelaskan asumsi revenue;
  • share gross/net ditulis jelas;
  • placement sudah dibahas;
  • downtime dan maintenance punya SOP;
  • ada report transaksi;
  • ada rencana launch;
  • venue punya audience yang cocok untuk foto;
  • tidak ada klaim revenue pasti.

Kalau venue kamu ada di Jakarta atau Bandung dan ingin pembanding dari operator photobooth AI, kamu bisa ajukan lokasi ke Magicbooth for Venue. Tim Magicbooth bisa membantu membaca traffic, space, dan kemungkinan skema kerja sama. Tetap sebagai evaluasi awal, bukan jaminan revenue.

Sebelum lanjut, hitung dulu skenarionya di simulator revenue photobooth. Masukkan angka dari proposal vendor, lalu cek apakah masih masuk akal setelah dibandingkan dengan kondisi venue kamu.

FAQ singkat

Apa itu revenue sharing photobooth?

Revenue sharing photobooth adalah skema kerja sama ketika vendor dan venue membagi pemasukan dari transaksi photobooth. Venue biasanya menyediakan space dan akses pengunjung, sementara vendor mengurus booth, sistem, dan operasional sesuai kesepakatan.

Apa bedanya gross revenue dan net revenue dalam bagi hasil photobooth?

Gross revenue adalah omzet sebelum potongan. Net revenue adalah angka setelah potongan tertentu. Dalam proposal, pastikan tertulis biaya apa saja yang dipotong sebelum pembagian supaya venue tahu bagian yang benar-benar diterima.

Apa yang harus dicek sebelum menerima proposal photobooth?

Cek asumsi order per hari, harga sesi, share venue, gross atau net, posisi booth, report transaksi, downtime, maintenance, settlement, dan rencana launch. Kalau proposal tidak menjawab bagian ini, angka revenue masih terlalu mentah.

Rudy Pangestu
Penulis

Rudy Pangestu

Bizdev operator Rupa.AI dan Magicbooth. Bizdev operator di Rupa.AI dan Magicbooth. Menulis tentang photobooth AI, brand activation, venue partnership, corporate headshot, dan penggunaan AI visual untuk kebutuhan bisnis.